Thursday, November 7, 2013

Ulsan & Busan trip (Day 2)

On the second day of our Busan trip, firstly we arrived at Heodong Yonggung Temple at 09.00 . Heodong Yonggung Temple located on the seafront, so once again I was spoiled by the beautiful view of South Korea’s sea. Built in 1376, the Haedong Yonggungsa Temple is one of the major Buddhist temples in Busan. In this area there are many statues of Earthly Branch, do you know what is your Earthly branch ? ^ _ ^
In addition, there is also a statue of golden pigs and several other Buddhist statues.

the front gate of Haedong Yonggung Temple, we need to go down the stairs


small cute buddhist statue >.< can I take one? ㅋㅋㅋ




in front of golden pig with friends from Indonesia, Malaysia, and Phillipine ^_^


My Malaysian friend and I have the same earth branch, it’s lamb ^_^


you can go down inside and drink holy water or something like that



people from Japan were praying




Finished enjoying the beauty of Heodong Yonggung Temple, the next destination is Dalmaji Road in Haeundae, Haeundae is one of the elite area in Busan. If there’s Gangnam in Seoul, then Busan has Haeundae. Dalmaji Road is located in hills, on one side we are able to see the sea, and on the other side there are a lot of cafes and coffee shops as well as many cool buildings and luxurious villas. 






After that we visited Shinsegae mall, Shinsegae is crowned by Guinness World Records as the World’s Largest Department Store, surpassing the Macy ‘s department store in New York City in 2009. And yaaa … you can get all the branded fashion stuff here, Channel ? Louis Vuitton ? you name it.

We had lunch at an Italian restaurant. So happy that I could finally eat European food, been two months eating Korean food makes me a little bit bored, hehe ^_^



delicious chicken


pizza with honey is the best! my friend and I even ordered another pan XD


fried rice, somehow I miss Indonesian fried rice :(



After finished eating, I went to look around in the mall for window shopping (but ended up doing real shopping). #girlsproblem
The journey continues to visit Busan Aquarium. Little confession, I have never been to Sea World Jakarta, Indonesia :p
But that’s okay, because I've already visited Busan Aquarium, Korea’s largest ocean themed park :p




the frozen giant shark 


Busan Aquarium is located near the beach and it is located under the ground . The interesting part is that there were funny posters resemble to Hollywood movie poster, those posters were deliberately created in celebration of the Busan International Film Festival which was held last October 3rd to 12th . Can you guess what the original movies are they?






After that we went to the beach to play around ^_^






At 6 pm , we had dinner at one of the korean restaurant. After that , we walked about 30 minutes to the Gwangan-ri beach to watch the Busan Fireworks Festival . The streets was really crowded by many citizens who wanted to see this show. After getting admission in Gwangan - Ri beach, the team and I soon get our booked seat which on the front row!!! The show started at 8pm and ended one hour later. Busan Fireworks Festival was very cool, I was totally amazed by the beauty of fireworks which accompanied along with the variety of music.




see the video recording of Busan Fireworks Festival: HERE


The second day in Busan was an amazing experience ! I love Busan ! >_<





Ulsan & Busan trip (Day 1)

DAY 1:
The first day in Ulsan, Wow Korea team and I were gathering in Ulsan station as our assembly point . I met students from various countries in Asia who study in Korea. They come from different cities in South Korea such as Daejoon , Gwangju, Seoul , and other cities.

Ulsan Station


After all the member had gathered, we headed to a restaurant to enjoy our lunch . I ordered 불고기 because I do not eat pork.



I ate this chili, don't jugde by its cover, it's not spicy at all!


After lunch, we went straight to the first destination. We headed to Daewangam Park, from the top of the hill we were able to see little part of Ulsan city as well as the beach and the ocean. The journey exploring Daewangam Park is quite tiring because we had to go up and down the hills, but the scenery we have encountered was so worth to see ^ ^
Quite unfortunate, I couldn’t take many photos because my battery was running out T_T

so windy >_<




The second destination is Hyundai Heavy Industries. In Indonesia, the company mostly known by public as the automobile company, but apparently Hyundai also produces other products, it has shipbuilding, engine and machinery, offshore & engineering, electro electric system, green energy, and construction equipment. In the first session, I entered the Asan Memorial Hall, where we can see the history of how Hyundai company was established through a variety of memorabilia and a short film about Hyundai. The tour continued by exploring the Hyundai company with our bus, unfortunately visitors are prohibited from taking photos while undergoing tour. I was lucky that I saw how big ships were being built. On the right side and left side there were giant machines that I had never seen before. It was extraordinarily sophisticated . This place is so big so we need to ride something in order to have a tour, otherwise you'll be faint after having a tour by walking aloneㅋㅋㅋ


inside the memorial hall


the front part of Hyundai Heavy Industries


Around 4 pm, the journey continued to Oegosan Onggi Village, this place is a village that produces traditional urns and statues of South Korea. There was a a giant earthware pot which was recognized by the Guinness Book of World Record as the world’s largest eartware pot. There were many of artworks on display in the museum as well, but mostly are NSFW so I will not upload here : p







sunset from the rooftop of the museum ^_^


hehehe, my foot


The Ulsan tour has been completed, and then we headed to Busan. After doing a quite tiring journey there were a lot of yummy Korean dishes that I couldn’t resist. First day trip is really nice!


the duck inside the pumpkin was the best dish ever!

Road to Ulsan & Busan (opening story)

Hari itu saya akan pergi ke Ulsan dan Busan untuk menghadiri trip bersama team KTO Wow Korea. Transportasi yang bisa saya pilih yakni menggunakan bus atau kereta namun harus transfer sekali ke Dongdaegu. Karena meeting pointnya berada di stasiun Ulsan, dan terminal bus Ulsan cukup jauh dari Stasiun Ulsan, maka diputuskanlah untuk naik kereta saja. Saat itu pun sebenarnya saya masih dalam minggu ujian tengah semester, tapi saya mengajukan permohonan kepada 선생님 untuk melakukan early exam, dan sehari sebelumnya saya harus menjalani 3 ujian sekaligus dalam sehari. Jadi ini sebenarnya travelling yang mengganggu kuliah atau kuliah yang menganggu travelling? :p

Perjalanan menuju Ulsan dimulai dengan menaiki kereta Mugunghwa dari Stasiun Gangneung menuju Dongdaegu, lalu dari Dongdaegu menuju Ulsan dengan menggunakan KTX. Perjalanan menggunakan Mugunghwa memakan waktu 6 jam.  Kereta berangkat pukul 5 sore. Kereta Mugungwa termasuk kereta tua, sehingga jalannya pun tidak cepat, namun sisi positifnya adalah saya bisa menikmati indahnya pemandangan selama sore itu, karena Gangneung dikelilingi oleh pegunungan, maka jalur kereta pun harus memutari pegunungan itu untuk sampai ke tempat tujuan. 



Penampakan kereta Mugunghwa di Stasiun Gangneung ^_^ 

Pemandangan pantai yang indah tak henti-hentinya memanjakan mata saya. Di dalam kereta, saya bertemu dengan gerombolan ahjumma dan ahjussi. Mereka sangat baik, mereka selalu menawari berbagai snack, buah, dan minuman selama perjalanan. Padahal roommate saya yang merupakan orang korea berpesan supaya hati-hati ketika bertemu orang asing yang memberi makanan. Tapi gimana ya mau nolak juga takut nggak sopan, dan ada faktor aji mumpung juga sih :p
Tiba di Stasiun Dongdaegu, saya langsung menunggu kereta KTX menuju Ulsan. Karena stasiunnya cukup besar dan tidak banyak petunjuk yang membantu  menemukan kereta yang saya maksud, tanpa malu-malu saya pun menghampiri seorang perempuan dan seorang laki-laki yang sepertinya umurnya tidak jauh dari umur saya, mereka stylish dan si lelaki pun mirip Sehun member boyband EXO, dia memakai jaket, topi, backpack…#salahfokus .. oke balik lagi, mereka duduk bersebelahan dan seperti sedang menunggu kereta juga, perempuan itu terlihat seperti orang timur tengah jadi saya berkesimpulan bahwa dia bisa bahasa inggris (sotoy akut). Setelah menanyakan kereta yang saya maksud (dan dia bisa bahasa inggris, yeay!) ternyata dia juga akan menaiki kereta yang sama. 


Stasiun Dongdaegu yang lengang, TKP dimana saya kehilangan arah…

Tiket transit yang sebelumnya langsung saya beli dari Stasiun Gangneung

Akhirnya bersama-sama dengan gadis dubai dan pemuda (yang ternyata orang cina) itu, kami menuju ke lantai bawah untuk menaiki KTX. Sebuah kereta yang terlihat lebih canggih daripada kereta Mugunghwa yang sebelumnya saya naiki berjalan cepat menuju arah kami menunggu. Dengan semangat 45 saya menaiki gerbong 13.


kereta cepat KTX ^^

Seperti yang tertera dalam tiket tersebut saya segera mencari seat 12C, namun ternyata kursi tersebut sudah ada yang menduduki. Saya bingung. Sebenarnya saya ingin bertanya apakah seat mereka memang disitu. Namun saya cukup lelah dan agak takut untuk bertanya karena bahasa korea saya belum lancar. Akhirnya saya pasrah dan duduk di kursi depan mereka. Hingga sekitar 20 menit kemudian, datang seorang petugas yang memeriksa tiket si perempuan dubai dan pemuda cina (kami duduk berjauhan). Melihat mereka bicara serius, feeling saya mendadak nggak enak, saya rasa kereta yang kami naiki ini salah. Pada perhentian berikutnya, kami pun turun, dan usut punya usut bahwa memang kereta yang kami naiki salah. Bagaimana bisa begitu? Padahal gerbong yang kami naiki betul gerbong 13. Ternyata kereta yang kami naiki itu lebih cepat 5 menit dari kereta yang seharusnya. Seharusnya kami naik kereta pukul 11.00. Disiplin waktu di Korea memang nggak main-main. Akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi ke Ulsan, karena anak dubai dan cina itu merupakan exchange student di Ulsan National University, akhirnya kami menuju ke Ulsan University menggunakan taksi yang memakan waktu 1 jam, dan tarifnya kalau di rupiahkan hampir mencapai 1 juta rupiah #blah
Kami sampai di Ulsan University sekitar pukul 1.30, saat itu udara sangat dingin dan saya cuma memakai leather jacket, 너무 바보야!
Saya segera menanyakan kepada dua mahasiswa tersebut apakah ada McDonalds di sekitar kampus, mereka kemudian menunjukkan jalan menuju McDonalds, setelah berjalan sekitar 8 menit, akhirnya segera saya masuki McDonalds tersebut. Tujuan utamanya bukan karena lapar sih, karena saya ingin mencari tempat untuk berlindung dari udara dingin. Akhirnya saya memesan kopi dan french fries. Cukup takut juga mengingat saya berada di kota antah berantah tanpa kenalan, meskipun saya pergi bersama teman Indonesia, tapi kami sama-sama tidak lancar bicara bahasa korea. Saat itu kota sudah sangat sepi, di McDonalds pun hanya segelintir orang yang menurut saya adalah mahasiswa Ulsan National University. Tidak perlu tau lah berapa lama saya menunggu di McDonalds hanya untuk menunggu jadwal kumpul dengan rombongan Wow Korea esok harinya :p

Sunday, September 22, 2013

"apa yang tidak kamu suka dari Indonesia?"

Saat itu adalah hari Chuseok, hari libur nasional orang Korea. Karena hari libur nasional otomatis restoran asrama kampusku tutup karena semua juru masak sedang libur, sehingga kami para mahasiswa international diberi kupon makan gratis di restoran di samping kampus sebagai kompensasi. 
Sambil menunggu pesananku datang aku berbincang-bincang dengan teman semejaku, salah satunya teman Indonesia, beberapa menit kemudian datang seorang pramuniaga cantik mengantarkan pesanan ke meja kami. Tiba-tiba dia bertanya apakah aku orang Indonesia. Setelah mengetahui bahwa diriku orang Indonesia, dia langsung menyatakan bahwa dirinya pernah tinggal di Jakarta.
Aku histeris.
Dia histeris.
Perasaan bahagia langsung menghampiriku. 
Ini adalah pertama kalinya aku menjumpai orang korea yang bisa berbahasa Indonesia selama 3 minggu pertama tinggal disini.
Saat itu belum juga kusentuh makananku, aku dan dia larut dalam pembicaraan yang sangat exciting, tentunya dalam bahasa Indonesia.
Dia cantik, berambut panjang, kulitnya putih dan penampilannya sangat muda dan trendi layaknya remaja-remaja di Seoul.
Karena aku merasa tidak enak terlibat pembicaraan yang cukup lama dengan posisi yang tidak cukup nyaman, akhirnya aku menyatakan pada dia untuk melanjutkan pembicaraan setelah aku makan, toh saat itu dia juga harus membantu keluarganya (yang merupakan pemilik restoran tempat aku makan) membereskan meja-meja restoran.
Setelah aku selesai makan, kupanggil dia dan larutlah kami dalam pembicaraan yang semakin dalam, tentang bagaimana dia bisa bahasa Indonesia, sedang belajar di universitas mana, dll.
Dia bernama Sooji dan berusia 22th. Mengetahui dia lama tinggal di Indonesia, kutanyakan padanya apa yang paling dia tidak suka dari Indonesia.
aku mengira jawabannya mungkin di antara panasnya Indonesia, macetnya Jakarta, atau banjir.
Tapi jawaban dia adalah….betapa tidak nyamannya ketika dia sedang berjalan-jalan lalu tiba-tiba ada lelaki yang bersiul-siul atau memanggil dirinya. Dia bahkan bilang begini: “banjir itu nggak papa, tapi kalo aku lagi jalan itu lho, dipanggi-panggil. huh apa kamu manggi-manggil!” dengan aksen dan bahasa Indonesia yang agak lucu.
Aku sangat menyadari hal ini. Disini, aku pulang larut malam pun tak ada lelaki iseng menggoda dengan bersiul dan sebagainya. Sangat jauh berbeda ketika berada di Indonesia yang bahkan sudah berpakaian sopan dan tertutup pun masih saja digoda.
Di Korea Selatan, hal tersebut dianggap kurang ajar dan merupakan pelecehan seksual. Sang pria bisa saja dilaporkan ke polisi.
Penting bagi kita untuk merasa aman dan nyaman dimanapun kita berada terlebih lagi di negara sendiri.
Bukan bermaksud membandingkan, namun apa yang dikatakan Sooji sebenarnya cukup simpel tapi sangat masuk akal. Masalah kenyamanan ketika kita hidup di dalam sebuah society amatlah penting. Bagaimana kita bisa betah apabila berjalan di tempat yang ramai saja kita tidak merasa aman dan nyaman, apalagi jika berjalan di tempat atau jalan yang sepi. 
Dan orang-orang Indonesia khususnya laki-laki harus paham betul bagaimana mereka memperlakukan orang lain, bagaimana mereka menghargai kita sebagai perempuan, sebagai human being, sebagai pejalan kaki, dan tau bagaimana mereka menghindari melakukan sesuatu yang ternyata dapat membuat kaum hawa malu dan merasa dilecehkan. Namun sepertinya bersiul-siul atau menggoda perempuan yang sedang lewat merupakan hal yang “wajar” di Indonesia.
Bukan bermaksud seksis, tapi bukankah lelaki diharuskan melindungi kaum perempuan? bukannya membuat kita merasa takut dan tidak nyaman.

Monday, September 16, 2013

From Kreyo to Korea (part2-end)

1 September.

Pagi ini pesawat yang aku naiki akhirnya mendarat di Incheon airport. Dengan membawa tas ransel seberat 4kg dan tangan kanan menenteng tas seberat 6kg, perasaan haru bercampur tidak percaya bahwa aku telah menginjakkan kaki di Korea Selatan masih menyelimuti hatiku. Aku kemudian menaiki kereta yang akan membawa semua penumpang ke sisi lain Incheon airport. Kemudian setelah urusan imigrasi selesai, aku pun menanti pihak universitas yang akan menjemputku sambil men-charger ponsel di tempat khusus yang disediakan di dalam airport tersebut.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya seorang pria asia yang tubuhnya menjulang tinggi menghampiri dan menanyakan apakah diriku Mariska. Akhirnya kuketahui bahwa dia dan beberapa staff lain memang bertugas untuk menjemputku dan mahasiswa dari negara lain. Setelah itu kami bersama-sama menuju bus universitas yang diparkir di pintu keluar, dia membantuku mendorong troli koper sambil kami berbincang-bincang sedikit. Kemudian setelah sampai di depan bus, aku pun memasukkan koper dan barang-barangku, lalu naik ke dalam bus dan kutemukan beberapa mahasiswa negara lain yang telah duduk disana. Sambil menunggu bus berjalan, tiba-tiba perhatianku beralih ke sisi kanan karena mendengar suara kegaduhan di pintu keluar airport, suara hentakan kaki-kaki yang sedang berlari, nampak gerombolan remaja muda sambil membawa kamera digital mereka mengejar sosok yang tidak kukenal, aku berasumsi bahwa sosok yang dikejar itu adalah artis yang sayangnya aku tidak sempat melihat siapa, setelah sang artis memasuki mobilnya, para remaja itu pun membubarkan diri sambil meminta maaf kepada orang-orang disekitar mereka yang mungkin sempat mereka tabrak secara tidak sengaja demi mengejar sang idola.
Perjalanan dari Incheon menuju kota yang akan kutinggali memakan waktu sekitar 3 jam. Di Incheon aku melewati jembatan yang cukup panjang di atas perairan luas dimana terdapat beberapa kapal sedang mengapung dan kulihat semacam pertambangan di tengah perairan tersebut. Pemandangan akan gedung-gedung bertingkat dan kawasan industri selama berada di wilayah Incheon membuatku kagum, sambil sesekali kubaca nama-nama perusahaan yang tertampang besar di bangunan-bangunan bertingkat itu.
Sekitar pukul 16.39, aku tidak tahu saat ini berada di ketinggian berapa karena tiba-tiba saja bus ini telah membawaku ke daerah pegunungan meskipun beberapa jam sebelumnya tidak kurasakan bahwa jalanan yang dilewati cukup menanjak, tapi ini sangat indah. Hanya beberapa meter saja mungkin, kulihat dengan jelas dan dekat adanya kabut yang menyelimuti puncak pegunungan di depanku, pegunungan yang hijau dirimbuni pohon-pohon pinus. Jalan menuju kota tujuanku adalah dengan berkali-kali memasuki terowongan-terowongan yang berada di dalam pegunungan ini.
Kemudian di kanan jalan aku melihat papan penanda bahwa kota tujuanku tinggal 5km lagi diikuti dengan menurunnya jalan tersebut sehingga bisa kulihat dengan jelas pemandangan di depan. Sungguh luar biasa, pemandangan yang indah, keindahan pantainya beserta gedung-gedung bertingkat dan landscape kota yang menandakan adanya kehidupan masyarakat di kota itu. Sungguh tidak percaya, baru saja aku melewati pegunungan lalu dalam hitungan menit berikutnya disuguhi pemandangan pantai yang indah di kota ini.
Beberapa menit kemudian, bus telah membawaku masuk ke lingkungan universitas. Berhenti di depan gedung bertingkat 7 yang merupakan asrama sekaligus hotel, tibalah aku disini.
:)

Friday, August 30, 2013

From Kreyo to Korea (part1)

Tidak ada lagi pintu kamar perempuan yang digedor-gedor oleh teman-teman lelaki kami yang membangunkan untuk solat subuh .
Tidak ada lagi kami solat berjamaah di mushola dengan kecepatan doa yang luar biasa kilat.
Tidak ada lagi kami berbonceng-boncengan turun ke alun-alun kota batang untuk menjual takjil di sore hari pada bulan puasa.
Tidak ada lagi makan bersama di meja makan.
Tidak ada lagi kami, para perempuan, lari terbirit-birit masuk ke kamar, melewati gerombolan teman-teman lelaki yang sedang berkumpul di depan tv, sambil membawa jemuran pakaian dalam kami yang telah kering.
Tidak ada lagi main UNO hingga pukul 2 pagi.
Tidak ada lagi curhat-curhatan di tengah permainan UNO.
Tidak ada lagi kami membonceng teman-teman lelaki sambil melewati kuburan di jalan menuju desa tanpa lampu yang kondisinya telah rusak.
Tidak ada lagi rutinitas melewati persawahan dengan jalan berkelok-kelok tanpa lampu.
Tidak ada lagi anak-anak TK yang berteriak “K K NNN!!” ketika kami lewat di sekitar desa.
Tidak ada lagi kami pergi ke pasar membeli kebutuhan untuk program kami.
Tidak ada lagi kami ke alfamart untuk sekedar membeli makanan ringan atau kebutuhan-kebutuhan yang kurang.
Tidak ada lagi teman lelaki yang kerap mengetuk pintu kamar perempuan hanya untuk meminjam sisir setelah dia mandi.
Tidak ada lagi kami jalan-jalan ke pekalongan di malam hari untuk sekedar menikmati kopi/coklat di pinggir jalan.
Tidak ada lagi kami makan kerupuk singkong dan roti gapit buatan warga desa.
Tidak ada lagi teman-teman lelaki yang minta dipijat.
Tidak ada lagi candaan teman-teman lelaki kepada teman-teman perempuan.
Tidak ada lagi tangis yang pecah akibat keusilan teman-teman lelaki.
Tidak ada lagi kami minum teh di pagi hari.
Rutinitas selama 35 hari tersebut, tiba-tiba hilang.
Rutinitas yang telah kita jalani bersama.
Hari ini, kita kembali menjalani aktivitas harian yang biasa kita lakukan sebelum kita dipertemukan bersepuluh.
Ini bukan perpisahan, tidak ada silaturahmi yang terputus.
Ini adalah permulaan, sebuah keluarga baru.
Berakhirnya masa kerja KKN kita tidak berarti berakhir pula persahabatan kita.
Kalian telah memberi warna kehidupan yang baru.
Aku bangga pada kekompakan team kita.
Munculnya konflik tidak meretakkan kekuatan team kita.
Terima kasih atas hari-hari yang telah kita lalui bersama.
Pengalaman ini takkan mungkin aku lupakan.
Kalian semua hebat.
Sekali lagi, terima kasih kawan.

Bogor, 30 Agustus 2013

image

image

image

image
image

Wednesday, August 28, 2013

Indonesia Susah Bersih?


image


Cerita ini berawal ketika saya mengunjungi sebuah rumah sakit pemerintah, yakni RSUP Kariadi di Semarang. Pagi itu sekitar pukul 09.00 saya sedang menemani ayah yang melakukan medical check up, saya duduk di ruang tunggu…karena lapar, mampirlah saya ke sebuah toko roti, setelah makan roti dan minum-minum, panggilan alam pun tiba.. saya segera mencari toilet terdekat di ruang tunggu.
Begitu pintu toilet saya buka, aroma tak sedap pun tercium di sekitar ruangan tersebut. Toilet tersebut secara desain cukup modern, , dilengkapi dengan dua bilik dan satu wastafel. Yang membuat tidak nyaman adalah aroma tak sedapnya. Saya segera masuk ke dalam bilik sebelah kanan, setelah bisnis kelar, saya perhatikan setiap detail bilik toilet tersebut. Lantai yang baru dan mengkilat, tisu toilet, tempat sampah…semuanya tampak normal dan rapi. Namun ada satu hal yang cukup mengganggu penglihatan saya, yakni di pojok lantai terdapat semacam cairan riak, saya pikir itu adalah bekas ludah seseorang. Cukup mengherankan, kenapa dia tidak meludah di toilet saja? Kenapa harus mengotori lantai yang seharusnya bersih mengkilat bebas dari air? Toh ada flush dan semprotan toilet. Melihat pemandangan yang menjijikkan, segera saya siram ludah tersebut menggunakan semprotan.
Keluar dari bilik, saya segera mencuci tangan…di samping wastafel terdapat instruksi cara mencuci tangan yang benar, ketika saya sedang mencuci tangan sambil mengikuti instruksi tersebut, masuklah ibu-ibu petugas kebersihan.
Beliau masuk dengan muka masam, sambil memanggil saya dan menunjukkan sesuatu di toilet bilik sebelah kiri…beliau seperti mengungkapkan kekesalannya:
Ibu petugas kebersihan: “liat nih mba, jorok sekali” sambil tangannya menunjuk sebuah pembalut bekas pakai wanita yang dibuang begitu saja di lantai di bawah toilet duduk. Saya syok. Ngeri. Jijik. Heran betapa joroknya wanita yang membuang pembalutnya begitu saja di tempat yang tidak tepat.
Ibu petugas kebersihan: “setiap hari saya menemukan seperti ini. Capek tau gak mbak. Mereka ini tidak punya perasaan sama orang-orang yang bersih-bersih. Toilet sudah gratis tapi masih sembarangan aja kalo make. Saya dari pagi belum makan mba, saya bolak-balik bersihkan lorong terus ini.”
Saya mendengarkan.
Ibu petugas kebersihan: “saya ini gaji sehari cuma 30.000, atasan suka marah kalo toilet nggak bersih, dia galak sekali. Tapi orang-orang pada nggak tau jaga kebersihan. Masa saya harus liat kaya gini terus. Mau berhenti kerja juga saya nggak ngapa-ngapain di rumah. Liat kaya gini saya kan jadi nggak berselera makan to mbak”
Saya merespon ibu tersebut dengan memberikan simpati. Terlihat sekali raut mukanya yang marah bercampur lelah.
Hati saya marah. Marah terhadap orang-orang Indonesia yang nggak bisa menjaga kebersihan di tempat umum. Apanya sih yang kurang? Toilet bagus, bersih, bangunan baru, ada tempat sampahnya juga di tiap bilik. Kenapa masih ada aja yang nggak menjaga kebersihan?
Apa karena cuma mampir sekali lalu masa bodoh dengan pengguna toilet lainnya?
Andai kata orang-orang tersebut menjumpai kondisi serupa, apakah mereka nyaman melihat dan mencium aromanya?
Yang harusnya lebih dipikirkan lagi, bagaimana perasaan petugas kebersihan yang harus membersihkan kotoran-kotoran tersebut setiap hari? Kotoran yang seharusnya kita bersihkan sendiri.
Ya kita tau mereka dibayar untuk bekerja, tapi tau sendiri kan ternyata gaji mereka sehari berapa? Bahkan mungkin habis hanya untuk makan sehari dan biaya transportasi.
Apa sih susahnya membuang kotoran di tempat yang seharusnya?
Saya suka sebal melihat tingkah orang-orang jorok di fasilitas umum.
Bagaimana bisa hidup dengan gaya hidup seperti itu?
Disamping tidak sehat, tentunya juga mengganggu secara estetika.
Yuk kita sama-sama menjaga kebersihan fasilitas publik Mungkin tempat itu dipakai seribu orang dalam sehari, tapi kalau seribu orang tersebut tidak menjaga kebersihan, dalam sehari pastilah fasilitas public terganggu kebersihannya, begitu pula sebaliknya, jika seribu orang yang menggunakan fasilitas publik sama-sama menjaga kebersihan, pasti semua senang memakainya karena nyaman. Saya nggak mau lah ya ceramah di blog ini harus ini itu, paling enggak kita jadi tau dari perspektif seorang petugas kebersihan yang pekerjaannya berkaitan dengan “bisnis” banyak orang, yang mungkin sering kita lupakan atau bahkan tak kita pedulikan?